Bronislaw Malinowsky



Berikut adalah ulasan tentang teori fungsional, melihat kebudayaan secara antropologis yang diajukan oleh Bronislaw Malinowsky. Ulasan ini diramu dari beberapa sumber, namun sumber yang utama adalah buku almarhum Koentjaraningrat yang berjudul Sejarah Teori Antropologi II dan suatu analisis kontemporer dari Keesing dalam bukunya yang berjudul Antropologi Budaya edisi pertama. Selain itu, beberapa ulasan juga bersumber dari artikel yang diunduh dari internet.

Para ahli antropologi menganalisa kebudayaan dengan melihat pada “fakta-fakta antropologis” dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam system kebudayaan (Malinowski, 1976: 551). Hal unik dari etnografi Malinowski yang belum pernah dilakukan pengarang etnografi sebelumnya ialah caranya menggambarkan hubungan antara sistem kula di kepulauan Trobriand dengan lingkungan alam sekitar pulau-pulau, serta berbagai macam unsur kebudayaan dan masyarakat penduduknya. Ia mensyaratkan agar peneliti lapangan melatih diri dengan ketrampilan analitikal, yakni menerangkan latar belakang dan fungsi sosial adat tingkah laku manusia dan pranata-pranata sosial dalam masyarakat. Ia juga menganjurkan pengumpulan data kuantitatif yang dapat dievaluasi secara obyektif.

Fungsi sosial terdiri dari tiga tingkat abstraksi, yakni [1] pengaruhnya terhadap adat, tingkah laku manusia dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat; [2] pengaruhnya terhadap kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya seperti yang dikonsepsikan warga masyarakat bersangkutan; dan [3] pengaruhnya terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. Menurutnya, berbagai macam sistem tukar menukar yang ada di masyarakat merupakan daya pengikat dan daya gerak dari masyarakat, serta berkontribusi dalam menimbulkan kewajiban saling membalas (principle of reciprocity) yang mengaktifkan kehidupan masyarakat. Sedangkan antropolog peletak konsep strukturalisme adalah A.R. Radcliffe-Brown (1881-1955).

Meskipun pandangannya mengenai fungsi sosial sama dengan Malinowski, tetapi pendiriannya mengenai hukum pada dasarnya berbeda. Bagi masyarakat primitif yang tidak mempunyai hukum, sesungguhnya terdapat ketaatan yang spontan dan otomatis terhadap adat atau automatic spontaneus submission to tradition. Mengenai struktur sosial, ia menyatakan bahwa masyarakat yang hidup merupakan suatu sistem sosial yang mempunyai struktur. Ada dua dimensi struktur sosial, yaitu hubungan diadik dan hubungan diferensial. Adapun gagasannya untuk mengintegrasikan metodologi ilmu alam dalam ilmu sosial tidak pernah sempat diterapkannya.


Referensi :

Referensinya sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.