Contoh Empat Bentuk Abstraksi Malinowski


Dalam mekanisme penangkapan nelayan, aktifitas ekonomi saling keterkaitan antara subsistem produksi, distribusi dan konsumsi dengan pranata-pranata sosial budaya lokal seperti politik, agama, kesenian, pengetahuan, dsb. Selain keberadaan sumber daya laut yang dapat dimanfaatkan dan tersedia secara melimpah, ketersediaan modal juga penting dalam kegiatan penangkapan. Seperti halnya modal usaha dari sektor ekonomi di darat, modal usaha bagi perikanan nelayan juga terinvensi dalam alat-alat produksi seperti kapal/perahu, mesin, alat-alat tangkap dan perlengkapan.

Untuk mendapatkan berbagai peralatan tangkap, nelayan dapat mengaksesnya dengan mudah dari pemerintah setempat, para kerabat dekat seperti keluarga dan orang-orang yang memiliki modal besar seperti pengusaha. Hubungan ini dapat terwujud dengan adanya saling meminjam, tolong menolong. Keterwujudan mekanisme pranata politik dapat dilihat dari adanya kepentingan antar pengusaha dengan para nelayan dalam mengelola usaha perikanan yang menjajikan. Ada juga bantuan dari pemerintah berupa alat-alat tangkap dengan harga murah/bahkan gratis atau sejumlah modal untuk memperoleh perlengkapan penangkapan. Hubungan ini berlangsung demi terciptanya.

Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai “daerah penangkapan ikan” apabila terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Hal ini dapat diterangkan bahwa walaupun pada suatu areal perairan terdapat sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan tetapi alat tangkap tidak dapat dioperasikan yang dikarenakan berbagai faktor, seperti antara lain keadaan cuaca, maka kawasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan demikian pula jika terjadi sebaliknya.

Banyaknya jenis ikan dengan segala sifatnya yang hidup di perairan yang lingkungannya berbeda-beda, menimbulkan cara penangkapan termasuk penggunaan alat penangkap yang berbeda-beda pula. Setiap usaha penangkapan ikan di laut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan, gerombolan ikan, dan keadaan potensinya untuk kemudian dilakukan operasi penangkapannya.

Selektivitas alat tangkap tersusun oleh dua karakter, yaitu selektivitas ukuran (size selectivity) dan selektivitas spesies (species selectivity). Selektivitas ukuran merupakan karakter dari suatu alat tangkap untuk menangkap ikan berukuran tertentu dengan kemungkinan yang tidak tetap pada populasi ikan hasil tangkapan yang berbeda, sedangkan selektivitas spesies adalah karakter dari alat tangkap untuk menangkap ikan dari spesies tertentu dengan kemungkinan yang tidak tetap pada populasi spesies hasil tangkapan yang bervariasi.

Masyarakat nelayan harus menggali dan mengembangkan berbagai potensi sosial- budaya yang dimiliki dan berakar kuat dalam struktur sosial mereka, seperti pranata- pranata atau kelembagaan yang ada, jaringan sosial, dan sebagainya, sehingga masyarakat nelayan bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi kondisi kehidudpan sosial ekonomi nelayan dengan penghasilan yang tidak menentudan tidak mampu menhadapi tantangan alam yang buruk dengan peralatan yang sederhana meskipun sudah ada peralatan yang di gerak oleh mesin namun semua itu belum mampu membuat masyarakat nelayan masih berada tetap posisi garis kemiskinan secara ekonomi terutama pada buruh nelayan.

Hubungan Tenaga Kerja

Namun, proses penangkapan tidak dapat berjalan baik tanpa adanya sejumlah orang/nelayan yang melakukannya. Para nelayan ini dikategorikan sebagai tenaga kerja dalam pengoperasiannya. Dimana tenaga kerja adalah salah satu penentu bergeraknya faktor produksi dalam usaha ekonomi masyarakat nelayan. Dalam memilih tenaga kerja/anak buah kapal, ada kecendrungan masyarakat nelayan memilihlah dari para teman atau kerabat/keluarga. Sebab, hubungan sosial antar kerabat dalam struktur masyarakat pesisir cukup kuat. Bagi nelayan, kerabat memiliki fungsi sosial yang berperan dalam mengurangi tekanan ekonomi atau pada masa genting/sulit yang datang secara tiba-tiba dan tidak bisa diatasi secara sendiri. Dengan adanya tenaga kerja yang dibentuk dalam satu struktur yang disebut organisasi sosial nelayan yaitu bos dan pekerja atau istilah ponggawa-sawi bagi nelayan Sulawesi Selatan berperan penting dalam subsistem ekonomi nelayan.

Sebagai kelembangan, ponggawa-sawi mengandung beberapa fungsi, yaitu fungsi kelompok, fungsi nilai dan norma dan fungsi praktik terpola yang berkaitan dengan aktifitas ekonomi nelayan. Ponggawa-sawi terdiri dari ponggawa darat/lompo dan anak buah. Anak buah terdiri dari ponggawa laut dan sawi. Pemimpin dan pemiliki usaha disebut sebagai ponggawa darat sedangkan pemimpin pelayaran/operasional di laut disebut ponggawa laut/caddi. Sawi merupakan anak buah atau anggota yang menggunakan tenaga/tenaga kerja secara teknis.

Struktur kelompok organisasi ini ialah ponggawa berstatus pemimpin pelayaran dan aktifitas produksi dan berbagai pemilik alat-alat produksi. Mereka memiliki pengetahuan kelautan, pengetahuan dan keterampilan manejerial, sementara sawi hanya memiliki pengetahuan kelautan dan keterampilan kerja/produksi semata. Untuk mengembangkan mempertahankan eksistensi usaha, maka ponggawa laut/juragan tidak mengikuti pelayaran melainkan tetap tingggal di darat/pulau dengan mengusahakan perolehan pinjaman modal dari pihak lain, mengurus biaya-biaya anggotanya yang beroperasi di laut dan lain-lain. Para juragan/ponggawa laut dalam proses dinamika ini sebagian lainnya masih berstatus pemilik, sedangkan sebagian lagi hanyalah berstatus pemimpin operasi kelompok nelayan.

Pola hubungan (struktur sosial) menandai hubungan-hubungan dalam kelompok ponggawa-sawi baik dalam bentuknya elementer (ponggawa/juragan-sawi) maupun yang lebih kompleks (bos-Ponggawa pulau-sawi) ialah hubungan patron-client: dari atas bersifat memberi servis ekonomi dan sosial, sedangkan dari bawah hubungan mengandung muatan moral dan modal sosial.


Kepercayaan Nelayan terhadap Hantu-Hantu Laut

Dalam aktivitas kebaharian, Lampe (2004:7) menyatakan bahwa nelayan dan pelaut dari Sulawesi Selatan mempercayai keyakinan dan praktik agama sebagai model penyelamatan serta keberuntungan ekonomi. Dengan keyakinan, doa, dan mantra dapat dihindarkan ancaman ganasnya gelombang laut, badai, pusaran air, dan arus besar. Kekuatan do’a dapat menghindarkan diri (nelayan) dari gangguan raksasa laut (gurita, hiu) dan menjinakkan gelombang, bahkan menaklukkan hantu-hantu laut di lokasi-lokasi penangkapan nyang kaya dengan sumber daya bernilai ekonomi tinggi. Spirit agama dipadukan dengan mental untuk menggerakkan usaha lainnya seperti keberanian menanggung resiko ekonomi. Keteguhan mental, persaingan, adanya adaptasi, wawasan luas, dan lain-lain menjadi modal sosial masyarakat Mandar.

Selain itu, nelayan di daerah Sibolga Sumatera Utara percaya dengan penampakan hantu laut di daerah-daerah tertentu. Konon nelayan yang menangkap di area tersebut dapat jatuh sakit dan sembuh dalam wantu yang lama. Tempat yang mereka anggap sebagai daerah berbahaya terdapat berbagai biota laut yang memiliki tingkat ekonomi tinggi. Kejadian serupa pernah dijumpai di Solor Timur, Nusa Tenggara Timur, terutama di Desa Watobuku dan Moton Wutun yang menyebutkan penampakan sering dijumpai di sekitar Tanjung Naga, apalagi di daerah tersebut terdapat Pulau Sewanggi. Dari kedua contoh yang telah saya sebutkan adanya pemahaman rasional tentang pelestarian biota laut agar terjaga kelestariannya. Nelayan yang percaya dengan adanya. Melakukan kegiatan ekonomi yang seimbang atau berhasil adalah salah satu cara mempermudah manusia untuk menyeimbangkan hidup mereka.

Adanya kepercayaan dan praktik keagamaan pada nelayan terhadap laut tersebut menciptakan berbagai ritual yang dipercaya ampuh mengatasi permasalahan mereka dengan laut. (1) Ritual mappandesasi merupakan tradisi masyarakat etnik Mandar di Kelurahan Bungkutoko, Sulawesi Tenggara sebagai persembahan terhadap laut.. Unsur lisan dari ritual mappandesasi terletak dalam doa/mantranya, nyanyian rebana. Unsur bukan lisan dapat dilihat dalam sesaji, pemotongan kurban, pembakaran dupa (kemenyan), kepercayaan adanya penjaga laut.

Ritual adat Larung Sesaji yang di tengan laut atau oleh nelayan Kabupaten Barru dikenal dengan sebutan nama Maccera Tasi ini juga contoh lain. Dengan menggunakan perahu penangkap ikan membawa sesajian ke tengah laut, sebagai kelengkapan prosesi ritualtersebut. Sesajian disiapkan, mulai dari nasi beraneka warna, kelapa muda, daun siri sampai darah kambing yang telah disembelih. Semuanya untuk dipersembahkan kepada sang penunggu laut. Dalam prosesi ritual itu, masing-masing nelayan mengambil air laut yang tersimpan di tempayan sesaji, untuk disiramkan ke alat tangkapan ikan mereka. Ritual ini diadakan karena nelayan merasa hasil rangkapannya mengalami jumlah yang kecil, sehingga memohon kepada penunggu laut untuk dibantu. Adanya juga pemahaman tentang makhluk-makhluk gaib yang menghuni lautan.

Nelayan Mandar memiliki ritual laut, yang terkait dengan penghidupannya di laut, kepercayaannya terhadap penguasa alam semesta (Allah SWT), alam gaib dan hal-hal yang membahayakan di laut. Tuhan dan alam gaib menjadi pusat dari pelaksanaan ritual. Nabi khidir direpresentasikan sebagai penguasa laut. Tujuan utama dari ritual nelayan Mandar adalah untuk mendapatkan rezeki yang memadahi, perlindungan dari Tuhan agar terhindar dari bahaya laut (kawao, badai, hantu laut dan sebaginya). Demikian juga untuk mendapatkan barokah dari Allah SWT. Ritual dibagi 3: Ritual konstruksi (ritual pembuatan perahu hingga penurunan awal perahu ke laut). Ritual produksi (ritual sebelum melaksanakan pekerjaan melaut). Ritual distribusi (berupa upacara syukuran hasil tangkapan dan ritual syukuran awal bulan ramadhan).

Ritual pertama penyerakan diri terhadap Puanggalla Taala (penguasa alam). Konsep ini mengandung ekspektasi keselamatan diri dan perjuangan memperoleh rezeki yang memadahi. Disebut perjuangan karena medan laut yang ditempuh nelayan sangat menantang dan berada pada ketidakpastian. Maka segalanya diserahkan kepada Allah SWT sebagai penguasa segalanya. Ritual kedua pembersihan diri dan pembersihan hati. Konsep ini mengandung maksud penolakan untuk memakan rezeki yang dianggap tidak halal. Karena keyakinan makanan nyang diperoleh dari rezeki yang tidak halal akan berpengaruh buruk bagi dirinya, keluarga dan generasi yang ditinggalkan. Mereka menekankan kejujuran dan kerja keras yang merupakan implikasi dari sistem religiusitas-sufistik mereka. Dan yang ketiga merupakan basis filosofis dari konsep pembersihan diri dan hati. Maknanya, masyarakat nelayan Mandar lebih memilih rezeki yang maqbarakkaq dari pada harta yang berlimpah tetapi tidak maqbarakkaq. Maqbarakkah tidak terkait dengan banyak sedikitnya harta yang diperoleh, tetapi implikasi positif rezeki perolehan dalam kehidupan para nelayan.

Kalau kita melihat pendekatan jaringan sosial yang dianggap lebih mampu menjelaskan gejala sosial yang ada di masyarakat. Analisis jaringan sosial yang saya tulis dalam tulisan ini menekankan pada analisis situasional, dimana tindakan sosial, perilaku, dan sikap seorang manusia dianggap tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungannya.

Referensi :

Referensinya sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.