Pojiale dan Siri

Sebelumnya telah saya paparkan mengenai Gaya Hidup Modern dengan Teknologi Modern, untuk melihatnya anda dapat klik di sini. Kali ini saya akan memaparkan tentang budaya Pojiale dan Siri, selamat membaca.

Pojiale

Abraham Maslow, berasumsi bahwa manusia memiliki enam tingkatan kebutuhan, yaitu bermula dari kebutuhan yang paling dasar (fisiological need) hingga ke tingkat kebutuhan paling tinggi (cognitive need). Penghayatan atas kebutuhan dimulai dari kebutuhan fisiologik, dan jika terpenuhi secara minimal, barulah terhayati kebutuhan berikutnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman. Jika kebutuhan akan rasa aman terpenuhi pada ambang bawahnya, barulah muncul kebutuhan berikutnya, yaitu kebutuhan sosial (berteman, mencintai dan dicintai); dan apabila kebutuhan sosial telah terpenuhi dalam batas minimal, maka mulailah muncul kebutuhan akan pengakuan diri (dihargai, diakui prestasi dan reputasinya). Demikian seterunya hingga sampai pada kebutuhan kognitif (Maslow, 2004). Lalu bukankah karakter pojiale merupakan perwujudan dari kebutuhan sosial dan kebutuhan akan pengakuan diri (self esteem) bagi orang Bugis? Jawaban atas pertanyaan tersebut boleh “ya” dan dapat pula “tidak”. Tergantung pada sudut pandang kita.

Jika sudut pandang yang kita gunakan mengikuti cara pandang orang Bugis, maka jawaban atas pertanyaan di atas adalah “ya”. Sebab, bagi orang Bugis, dengan memamerkan kekayaan, jabatan, gelar akademik dan gelar tradisional lainnya, maka mereka merasa relasi sosialnya akan terbangun dan merasa mendapatkan penghargaan, serta reputasi dan prestasinya diakui oleh lingkungan sosialnya. Lain halnya, jika kita merujuk pada model Maslow, maka karakter pojiale dapat dikatakan sebagai bukan merupakan manifestasi dari upaya pemenuhan kebutuhan sosial dan kebutuhan self esteem. Sebab, cara pemenuhannya tidak berlangsung secara alamiah, tetapi cenderung dipaksakan. Lagi pula semangatnya lebih ke arah penggelembungan diri di tengah lingkungan sosialnya ketimbang .

Tengok misalnya, bagaimana orang Bugis yang dikenal sebagai pemeluk teguh Agama Islam berlomba-lomba menunaikan ibadah haji, tetapi sebagian diantaranya yang belum seiring dengan kemampuan real ekonominya. Selain itu, sebagian yang motif utamanya bukan karena panggilan iman, melainkan karena mengharapkan apresiasi dari lingkungan sosialnya. Dalam konteks itu, maka dapat dimaklumi apabila terdapat sejumlah orang Bugis yang berpredikat haji/hajjah yang masih bermasalah aspek ibadahnya yang lain, dan bahkan acapkali menjadi pelaku dalam kegiatan yang bersifat manipulatif dan tindakan tidak terpuji lainnya. Arena lainnya yang paling transparan digunakan oleh orang Bugis untuk mempertontonkan kepenguasaan modal ekonomi, sosial dan budaya ialah pada saat pelaksanaan upacara perkawinan. Saat itu sebagian besar dari atau mungkin seluruh energi ekonomi keluarga akan dikerahkan untuk membiayai pesta pernikahan.

Salah satu elemen dari prosesi perkawinan yang biayanya cukup besar ialah ‘mahar’ (doi balanca: Bugis)) yang akan diserahkan oleh pihak mempelai pria ke keluarga mempelai perempuan. Doi balanca merupakan salah satu instrumen dalam menakar posisi sosial keluarga yang melakukan upacara perkawinan. Semakin tinggi posisi sosial keluarga yang menjalankan pesta perkawinan, semakin besar pula maharnya. Olehnya itu umumnya orang Bugis akan berusaha untuk meninggikan nilai nominal doi balanca.

Contoh kasus, di kegiatan mappenre’ doi balanca (salah satu kegiatan dalam prosesi pernikahan, dimana pihak keluarga mempelai laki-laki mengantar uang belanja ke pihak keluarga mempelai perempuan) yang dilakukan oleh keluarga Aminuddin, misalnya (nama samaran); saat itu jumlah uang tunai yang diserahkan oleh pihak mempelai laki-laki ke keluarga mempelai perempuan sebanyak seratus juta rupiah. Penyerahan uang tersebut diumumkan dengan menggunakan pembesar suara dan disaksikan oleh ratusan orang. Padahal jumlah doi menre’/balanca yang disepakati saat prosesi pelamaran hanya sebanyak empat puluh lima juta rupiah. Lima puluh lima juta rupiah sisanya berasal dari pihak keluarga perempuan itu sendiri. Lalu, untuk apa uang sebanyak itu dipermaklumkan kepada khalayak, jika toh jumlah sebenarnya hanya sebanyak tiga puluh lima juta rupiah? Jawabannya tentu saja karena mereka akan mempermaklumkan kepenguasaan sumberdaya ekonomi dan sekaligus menegaskan posisi sosialnya.

Instrumen lainnya yang mengindikasikan posisi sosial ialah kualitas cetakan undangan, orang-orang yang turut mengundang, jumlah serta kedudukan sosial orang-orang yang diundang. Orang-orang yang turut mengundang ditulis lengkap gelarnya berikut jabatan yang disandangnya. Sama halnya dengan orang-orang yang diundang harus ditulis lengkap gelarnya. Sebab jika salah menuliskannya, maka yang bersangkutan akan murka dan tentu saja tidak akan hadir pada pesta perkawinan. Jumlah dan posisi sosial orang-orang yang hadir saat pesta pernikahan menjadi penada posisi sosial keluarga yang melakukan pesta perkawinan.

Selain itu, saat pelaksanaan pesta perkawinan, orang-orang yang hadir akan menggunakan dan memamerkan asesoris termahal yang dipunyainya. Kalung emas yang ukurannya kadang-kadang sebesar jari kelingking digelantungkan di luar pakaian; di lengannya terjejer gelang emas dan busana yang digunakan acapkali dilengkapi dengan peniti emas. Sekitar tahun 1999, ketika siaran TV swasta belum menjangkau pelosok pedesaan di Sulawesi Selatan, kecuali dengan antena parabola, desa tempat salah satu anggota keluarga saya bermukim umumnya warga memiliki antena parabola dan tentu saja dengan TV. Tetapi diantara rumah tangga yang memiliki antena parabola hanya sebagian kecil yang memiliki jamban keluarga, dan yang memiliki jamban pun acapkali tidak memenuhi standar kesehatan. Lalu kenapa hal itu terjadi? Karena kepemilikan antena parabola dan TV mengemban makna prestise. Sementara kepemilikan jamban tidak. Meskipun merupakan kebutuhan utama bagi kesehatan. Tak jarang pula kita menemukan seseorang yang sangat setia menggunakan topi, baik ketika ia sedang mengendarai mobil maupun saat berada di supermarket dan di tempat umum lainnya. Ternyata ketika mata kita tertuju pada huruf-huruf yang tercetak di topi itu, terbacalah namanya yang lengkap dengan gelar (kebangsawanan, dan akademik) berikut jabatan yang disandangnya.

Hal yang lebih ironis adalah dunia kampus yang seyogyanya para aktornya larut-tenggelam dalam kegiatan akademik (kegiatan belajar-mengajar, meneliti, menulis dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan umat manusia) malah lebih terpesona pada simbol-simbol akademik. Akibatnya, mereka menjadi abai pada dunia yang digelutinya. Lupa meneliti dan menulis karya ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan secara akademik. Konsekuensinya, gelar akademik yang terpajang hanya menjadi tanda-tanda yang kehilangan penanda-penandanya.

Menurut Abdullah (1997) nilai-nilai fundamental siri’ yang relevan dengan pengasuhan dan kepembimbingan di sekolah, mencakup semangat sipakatau, pesse, parakai sirimu, cappa lila, rupannamitaue dek naullei ripinra, sipatuo sipatokkong, sipamali ssiparapppe. Semangat Sipakatau bermakna saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Nilai budaya ini memancarkan penghargaan dan keserasian hubugan dengan hubungan dengan orang lain. Pesse bermakna kesetiakawanan terhadap manusia. Parakai sirimu merefleksikan perasaan tanggung jawab dan pengendalian diri. Siri’ berfungsi mengontrol diri dari perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama. Falsafah cappa lila (ujung lidah) bermakna keterampilan berkomunkasi dan berdialog dengan penuh keterbukaan dan tutur kata yang santun yang berimpliksi pada keharmonisan sosial. Rupamnamitaue’ dek naulle’ ripinra (hanya wajah manusia yang tidak bisa diubah) bermakna percaya diri dan sikap optimisme terhadap peluang terjadinya perubahan pada diri manusia ke arah yang lebih baik. Sipatuo sipatokkong , sipamali siparappe (saling mengembangkan dan saling menghidupkan)yang berimplikasi kepada saling membantu dan memahami orang lain. Pajjama (usaha dan kerja keras) mengandung makna kemandirian, sikap optomis dan dinamis menghadapi masa depan disertai ketekunan dan kerja keras. Getteng (ketegasan prinsip) mengandung makna kepercayaan diri, keberanian menanggung resiko dan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Nilai malu dalam kandungan siri’ menurut Marzuki (1995) menggugah seseorang agar tidak melakukan pelanggaran Ade’ sementara nilai-nilai harga diri atau martabat menuntut seseorang untuk selalu patuh dan hormat pada kaidah-kaidah ade’ (hukum). Hal ini terungkap dalam petuah-petuah atau (pasen-pasen). Dari konsep pangaderreng yang melahirkan budaya siri, suku bugis dalam kehidupan sehariannya dalam mengasuh anak-anak mereka melahirkan sebuah kebiasaan atau budaya dalam bertutur kata atau berbuat yang disebut Pemmali. Pemmali bentuk pengasuhan keluarga baik yang berdiam di Sulawesi Selatan maupun di perantauan yang masih dipegang erat dalam suku bugis dalam sehari-hari. Pemmali merupakan istilah dalam masyarakat Bugis yang digunakan untuk menyatakan larangan kepada seseorang yang berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Pemmali dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "pemali" yang memiliki makna pantangan, larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.

Masyarakat Bugis meyakini bahwa pelanggaran terhadap pemmali akan mengakibatkan ganjaran atau kutukan. Kepercayaan masyarakat Bugis terhadap pemmali selalu dipegang teguh. Fungsi utama pemmali adalah sebagai pegangan untuk membentuk pribadi luhur. Dalam hal ini pemmali memegang peranan sebagai media pendidikan budi pekerti. Pemmali merupakan istilah dalam masyarakat Bugis yang digunakan untuk menyatakan larangan kepada seseorang yang berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Pemmali dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "pemali" yang memiliki makna pantangan, larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.

Pemmali dalam masyarakat Bugis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemmali dalam bentuk perkataan dan pemmali dalam bentuk perbuatan. Sebagai berikut; (1). Pemmali Bentuk Perkataan, Pemmali bentuk ini berupa tuturan atau ujaran. Biasanya berupa kata-kata yang dilarang atau pantang untuk diucapkan. Kata-kata yang pantang untuk diucapkan disebut kata tabu. Contoh kata tabu yang merupakan bagian pemmali berbentuk perkataan misalnya balawo â˜tikusâ, buaja â˜buayaâ, guttu â˜gunturâ. Kata-kata tabu seperti di atas jika diucapkan diyakini akan menghadirkan bencana atau kerugian. Misalnya, menyebut kata balawo (tikus) dipercaya masyarakat akan mengakibatkan gagal panen karena serangan hama tikus. Begitu pula menyebut kata buaja dapat mengakibatkan Sang Makhluk marah sehingga akan meminta korban manusia.Untuk menghindari penggunaan kata-kata tabu dalam berkomunikasi, masyarakat Bugis menggunakan eufemisme sebagai padanan kata yang lebih halus. Misalnya, kata punna tanah â penguasa tanah â digunakan untuk menggantikan kata balawo, punna uwae â˜penguasa airâ digunakan untuk menggantikan kata buaja; (2). Pemmali Bentuk Perbuatan atau Tindakan, pemmali bentuk perbuatan atau tindakan merupakan tingkah laku yang dilarang untuk dilakukan guna menghindari datangnya bahaya, karma, atau berkurangnya rezeki.

Beberapa Contoh Pemmali dan Maknanya
Riappemmalianggi anaâ darae makkelong ri dapurennge narekko mannasui” (Pantangan bagi seorang gadis menyanyi di dapur apabila sedang memasak atau menyiapkan makanan). Masyarakat Bugis menjadikan pantangan menyanyi pada saat sedang memasak bagi seorang gadis. Akibat yang dapat ditimbulkan dari pelanggaran terhadap larangan ini adalah kemungkinan sang gadis akan mendapatkan jodoh yang sudah tua. Secara logika, tidak ada hubungan secara langsung antara menyanyi di dapur dengan jodoh seseorang. Memasak merupakan aktivitas manusia, sedangkan jodoh merupakan faktor nasib, takdir, dan kehendak Tuhan.Jika dimaknai lebih lanjut, pemmali di atas sebenarnya memiliki hubungan erat dengan masalah kesehatan. Menyanyi di dapur dapat mengakibatkan keluarnya ludah kemudian terpercik ke makanan. Dengan demikian perilaku menyanyi pada saat memasak dapat mendatangkan penyakit. Namun, ungkapan atau larangan yang bernilai bagi kesehatan ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan diungkapkan dalam bentuk pemmali.

Deq nawedding anaq daraE matinro lettu tengga esso nasabaq labewi dalleqna” (Gadis tidak boleh tidur sampai tengah hari sebab rezeki akan berlalu). Bangun tengah hari melambangkan sikap malas. Apabila dilakukan oleh gadis, hal ini dianggap sangat tidak baik. Jika seseorang terlambat bangun, maka pekerjaannya akan terbengkalai sehingga rezeki yang bisa diperoleh lewat begitu saja. Terlambat bangun bagi gadis juga dihubungkan dengan kemungkinan mendapatkan jodoh. Karena dianggap malas, lelaki bujangan tidak akan memilih gadis seperti ini menjadi istri. Jodoh ini merupakan salah satu rezeki yang melayang karena terlambat bangun. Dari tinjauan kesehatan, bangun tengah hari dapat mengakibatkan kondisi fisik menjadi lemah. Kondisi yang lemah menyebabkan perempuan (gadis) tidak dapat beraktivitas menyelesaikan kebutuhan rumah tangga. Masyarakat Bugis menempatkan perempuan sebagai pemegang kunci dalam mengurus rumah tangga. Perempuan memiliki jangkauan tugas yang luas, misalnya mengurus kebutuhan suami dan anak.

Riappemmalianggi matinro esso taue ri sese denapa natabbawa ujuna taumate engkae ri bali bolata” (Pantangan orang tidur siang jika jenazah yang ada di tetangga kita belum diberangkatkan ke kuburan). Pemmali ini menggambarkan betapa tingginya penghargaan masyarakat Bugis terhadap sesamanya. Jika ada tetangga yang meninggal, masyarakat diharapkan ikut mengurus. Masyarakat biasanya berdatangan ke tempat jenazah disemayamkan untuk memberikan penghormatan terakhir dan sebagai ungkapan turut berduka cita bagi keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat yang tidak dapat melayat jenazah karena memiliki halangan dilarang untuk tidur sebelum jenazah dikuburkan. Mereka dilarang tidur untuk menunjukkan perasaan berduka atau berempati dengan suasana duka yang dialami keluarga orang yang meninggal.

Pemmali mattula bangi tauwe nasabaq macilakai” (Pantangan bertopang dagu sebab akan sial). Bertopang dagu menunjukkan sikap seseorang yang tidak melakukan sesuatu. Pekerjaannya hanya berpangku tangan. Perbuatan ini mencerminkan sikap malas. Tidak ada hasil yang bisa didapatkan karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan. Orang yang demikian biasanya hidup menderita. Ia dianggap sial karena tidak mampu melakukan pekerjaan yang mendatangkan hasil untuk memenuhi kebutuhannya. Ketidakmampuan tersebut mengakibatkan hidupnya menderita.

Pemmali lewu moppang ananaE nasabaq magatti mate indoqna” (Pemali anak-anak berbaring tengkurap sebab ibunya akan cepat meninggal). Tidur tengkurap merupakan cara tidur yang tidak biasa. Cara tidur seperti ini dapat mengakibatkan ganguan terhadap kesehatan, misalnya sakit di dada atau sakit perut. Pemali ini berfungsi mendidik anak untuk menjadi orang memegang teguh etika, memahami sopan santun, dan menjaga budaya. Anak merupakan generasi yang harus dibina agar tumbuh sehingga ketika besar ia tidak memalukan keluarga.

Pemmali kalloloe manrewi passampo nasabaq iyaro nasabaq ipancajiwi passampo siri” (Pemali bagi remaja laki-laki menggunakan penutup sebagai alat makan sebab ia akan dijadikan penutup malu). Laki-laki yang menggunakan penutup benda tertentu (penutup rantangan, panci, dan lainnya) sebagai alat makan akan menjadi penutup malu. Penutup malu maksudnya menikahi gadis yang hamil di luar nikah akibat perbuatan orang lain. Meski pun bukan dia yang menghamili, namun dia yang ditunjuk untuk mengawini atau bertanggung jawab. Inti pemali ini adalah memanfaatkan sesuatu sesuai fungsinya. Menggunakan penutup (penutup benda tertentu) sebagai alat makan tidak sesuai dengan etika makan. Penutup bukan alat makan. Orang yang makan dengan penutup merupakan orang yang tidak menaati sopan santun dan etika makan. Akibat lain yang ditimbulkan jika menggunakan penutup sebagai alai makan adalah debu akan terbang masuk ke makanan. Akhirnya, makanan yang ada di wadah tertentu menjadi kotor karena tidak memiliki penutup. Hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan karena dapat mendatangkan penyakit.

Pemmali saleiwi inanre iyarega uwae pella iya purae ipatala nasabaq mabisai nakenna abalaq” (Pemali meninggalkan makanan atau minuman yang sudah dihidangkan karena biasa terkena bencana). Pemali ini memuat ajaran untuk tidak meninggalkan makanan atau minuman yang telah dihidangkan. Meninggalkan makanan atau minuman yang sengaja dibuatkan tanpa mencicipinya adalah pemborosan. Makanan atau minuman yang disiapkan itu menjadi mubazir. Makanan bagi masyarakat Bugis merupakan rezeki besar. Orang yang meninggalkan makanan atau minuman tanpa mencicipi merupakan wujud penolakan terhadap rezeki. Selain itu, menikmati makanan atau minuman yang dihidangkan tuan rumah merupakan bentuk penghoramatan seorang tamu terhadap tuan rumah. Meninggalkan makanan dapat membuat tuan rumah tersinggung.


Referensi :

Referensinya sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.

Artikel ini berisi tentang pojiale dan siri yang dapat menjadi refernesi keilmuan anda. Sebagai kajian pembelajaran budaya lebih mendalam