Resiprositas Pada Mayarakat Bali, Subang dan Lampung


Sebuah masyarakat, terutama yang berbentuk komunitas kecil, dapat bertahan dan menjaga eksistensinya karena adanya saling ketergantungan diantara para anggotanya. Untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, anggota masyarakat memerlukan bantuan dari anggota lainnya sebagai akibat dari adanya berbagai keterbatasan yang dimiliki anggota masyarakat ataupun lingkungannya. Keterbatasan-keterbatasan ini mendorong anggota masyarakat untuk mengupayakan pemenuhannya dari (bantuan ataupun dukungan) anggota masyarakat lainnya, baik secara individual maupun sebagai upaya kolektif. Mekanisme ini membentuk sebuah sistem tolong-menolong, dimana pihak yang ditolong memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang sama terhadap pihak lain yang sudah menolongnya. Situasi ini secara tidak langsung menciptakan ikatan yang kuat diantara anggota dan menjadi sebuah kekuatan untuk perkembangan masyarakat. Sebagaimana disampaikan oleh Malinowski (1928) bahwa sistem tukar-menukar kewajiban dalam berbagai lapangan hidup masyarakat (prinsip resiprositas) merupakan daya pengikat dan daya gerak dari masyarakat.

Dalam melakukan perbandingan antara sekaha (Bali), gotong royong (Subang), dan nemui nyimah (Lampung) sebagai pranata tolong-menolong yang merupakan bentuk pertukaran sosial, sebagaimana telah disarankan oleh Beattie, perlu dipahami eksistensi pranata tersebut berdasarkan situasi yang terdapat dalam masing-masing masyarakatnya sehingga dapat menemukan hubungan kausalitas antara akibat dan penyebab –dalam kaitannya dengan sistem gagasan dan kepercayaan serta sistem tindakan masyarakatnya- yang bisa menjelaskan timbulnya pranata tersebut. Perbedaan sebab dan akibat yang menimbulkan pranata tolong-menolong diantara ketiga kelompok masyarakat tersebut, akan ditemukan kesamaannya pada tingkat sistem gagasan dan sistem kepercayaan serta pola yang kurang lebih sama dalam sistem tindakannya.

Tolong-menolong yang tumbuh pada masyarakat Desa Trunyan dan Desa Blanakan memiliki sedikit perbedaan latar belakang dengan yang tumbuh pada masyarakat Lampung. Pada masyarakat Desa Trunyan dan Desa Blanakan, tolong-menolong timbul sebagai sebuah mekanisme yang diciptakan masyarakat untuk mengatasi keterbatasan yang ada pada masyarakat, yaitu keterbatasan material (finansial ataupun tenaga) dan keterbatasan sumber daya alam (yang memicu timbulnya Sekaha yeh di Desa Trunyan). Keterbatasan secara material (baik dalam hal finansial ataupun tenaga) pada anggota masyarakat menyebabkan mereka harus saling membantu pada saat diantara anggotanya ada yang melakukan kegiatan untuk kepentingan dirinya dan keluarganya, seperti membangun rumah atau kendurian.

Pada saat membantu anggota masyarakat lain memenuhi kebutuhannya, dia berharap dengan sangat bahwa pada saat membutuhkan bantuan pihak lain dia pun akan dapat memperolehnya dengan nilai yang setimpal (prinsip resiprositas). Kegiatan kendurian ataupun pembangunan rumah merupakan kegiatan yang memerlukan biaya besar dan tenaga kerja yang banyak, sehingga bila keperluan untuk kegiatan tersebut harus dipenuhi oleh anggota masyarakat secara mandiri akan terasa berat, bahkan tidak mungkin untuk direalisasikan tanpa bantuan dari sesama anggota masyarakat. Mekanisme bantu-membantu ini menjadi jalan keluar yang sangat menguntungkan bagi anggota masyarakat, karena dengan cara demikian kebutuhan warga masyarakat dapat terpenuhi. Pemikiran demikian terdapat pada seluruh atau sebagian besar anggota masyarakat. Pada situasi demikian, di dalam masyarakat telah terbangun sebuah sistem gagasan dan kepercayaan mengenai perlunya tolong-menolong diantara mereka, yang terkait dengan pemikiran mereka mengenai aspek lain dalam kehidupan bersama.

Proses bantu membantu ini, ketika dinilai oleh masyarakat sebagai mekanisme yang menguntungkan dan perlu untuk kelangsungan hidup anggota masyarakatnya (fungsional), maka tindakan tersebut akan melembaga sebagai bentuk interaksi yang normatif dalam masyarakat. Interaksi normatif ini kemudian menemukan keteraturan dalam cara bertindak maupun nilai dari muatan dalam tindakan tersebut sehingga berkembang menjadi sebuah sistem tindakan. Dalam sistem tindakan ini prinsip-prinsip dalam pertukaran sosial dapat ditemukan. Bahkan untuk menjaga sistem tindakan (yang pada dasarnya mengupayakan adanya pertukaran yang seimbang) agar berjalan dengan semestinya, masyarakat melengkapinya dengan sanksi-sanksi yang harus diikuti oleh anggota.

Dalam sekaha blu dan sekaha beras misalnya, terdapat sistem tindakan yang sudah diatur dalam masyarakat cara dan ,bahkan, besaran dari proses pemberian dan penerimaan bantuan dari pihak lain. Mekanisme pertukaran sosial yang terjadi dalam proses tersebut sudah diatur agar tidak ada pihak yang akan merasa dirugikan. Dalam sekaha blu ini, anggota masyarakat yang pernah membantu dapat menuntut bantuan yang seimbang besarnya kepada pihak lain pada saat dia membutuhkan bantuan, dan pihak lain harus memenuhinya dengan tepat (norma resiprositas).

Dalam masyarakat Lampung pun, pranata nemui nyimah menunjukkan adanya sistem tindakan yang merupakan proses pertukaran, tetapi proses pertukaran yang terjadi sifatnya tidak langsung. Pada saat memberikan penghormatan dalam bentuk jamuan kepada tamu atau pun pendatang, dia akan mengharapkan akan ada balasan yang kurang lebih setimpal dari Tuhan atas tindakan yang dia lakukan kepada tamu, karena tamu (termasuk pendatang) dipandang sebagai pembawa rahmat. Selain itu, tindakan masyarakat Lampung yang memberikan penghormatan kepada tamu memberikan efek lain secara makro, yaitu terhindarkannya konflik antara penduduk asli dengan pendatang. Efek ini, secara tidak langsung, terjadi juga pada masyarakat Desa Blanakan dan Desa Trunyan sebagai akibat dari proses tolong-menolong diantara anggota masyarakat, yaitu adanya interaksi sosial yang harmonis. Bentuk hubungan ini tecipta, karena pada dasarnya diantara anggota masyarakat terjadi saling ketergantungan yang mengarah kepada hubungan yang positif, yaitu kerjasama.

Sekaha, gotong royong, dan nemui nyimah, sebagai pranata, memiliki gagasan yang sama bagi anggota masyarakat dimana pranata tersebut timbul. Pengalaman, harapan, serta kenyataan dan efek dari adanya aktivitas-aktivitas individual -yang saling terkait dan saling mempengaruhi sebagai sebuah sistem tindakan- dalam tolong-menolong, menimbulkan keyakinan bahwa memberikan sesuatu yang kepada pihak lain, akan menyebabkan dia memperoleh –harapan- akan adanya penerimaan yang nilainya kurang lebih sama pada masa yang akan datang. Hal ini memberikan keuntungan kepada anggota-anggota masyarakat, sehingga eksistensi tolong-menolong sebagai sebuah pranata diperlukan oleh masyarakat.

Dalam perspektif struktural-fungsional, sebuah pranata akan tetap dijadikan sebagai acuan oleh anggota masyarakat dalam berprilaku bila pranata tersebut memiliki fungsi dalam menjaga kelangsungan masyarakat. Artinya, pranata tersebut dapat digunakan oleh masyarakat dalam mengatur perilaku anggotanya agar tidak mengganggu kelangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan. Bantu-membantu dalam gotong royong serta sekaha blu dan sekaha beras, pengaturan pemenuhan kebutuhan air dalam sekaha yeh, serta norma memberi dalam nemui nyimah mampu mengatur perilaku anggota masyarakat dalam kehidupan bersama dan menimbulkan efek yang mendukung kehidupan kolektif serta dapat menjadi jalan keluar bagi situasi keterbatasan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Terlebih lagi, tolong-menolong secara langsung maupun tidak langsung menjadi landasan yang sangat penting untuk mempertahankan eksistensi sebuah masyarakat.

Untuk mempertegas fungsionalitas dari sebuah pranata, masyarakat memandang perlu untuk menetapkannya dalam bentuk sebuah lembaga, seperti yang terjadi di Desa Trunyan dalam bentuk sekaha yeh, sekaha blu, dan sekaha beras. Sebagai sebuah lembaga, masyarakat pun melakukan pengaturan bentuk hubungan antara lembaga yangsatu dengan lemabag lainnya, seperti yang terjadi pada sekaha yeh dalam hal pemanfaatan bulakan yang dikuasai oleh sebuah sekaha yeh. Dengan demikian, secara struktural, pranata tersebut nampak sebagai bagian dari pembentuk masyarakat dengan fungsi yang jelas.


Referensi :

Referensinya sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.