Teori New Evolusi

Prakata

Berikut adalah ulasan tentang teori neo evolusi, di mulai pencetusan dari dua tokoh utama terdahulu yaitu Tylor dan Morgan tentang teori evolusi, sampai pada teori evolusi baru yaitu teori evolusi kebudayaan multilinier yang diajukan oleh Julian Steward selain teori evolusi kebudayaan universal yang dikemukakan oleh Leslie White. Ulasan ini diramu dari beberapa sumber, namun sumber yang utama adalah buku almarhum Koentjaraningrat yang berjudul Sejarah Teori Antropologi II. Selain itu, beberapa ulasan juga bersumber dari artikel yang diunduh dari internet.

Teori Neo Evolusi

Pada abad ke sembilan belas, dalam masyarakat Eropa mengemuka sebuah paradigma yang memandang bahwa gejala-gejala yang timbul dari alam, masyarakat dan kebudayaan yang ada dalam komunitas manusia dapat dilihat dan dipikirkan secara rasional. Cara pandang yang secara tidak langsung mengkritik perilaku masyarakat Eropa Barat yang mengembalikan segala sesuatunya ke kitab suci ini kemudian dikenal dengan teori evolusi kebudayaan. Paradigma ini dipahami sebagai pandangan yang menyatakan bahwa ada kepastian dalam tata tertib perkembangan yang melintasi sejarah kebudayaan dengan kecepatan yang pelan tetapi pasti.

Selanjutnya, dimulailah pergumulan dogma-dogma agama yang telah sekian lama mengakar di tengah-tengah masyarakat dengan cara pandang baru yang sepenuhnya berbeda dan asing bagi masyarakat Eropa Barat saat itu. Paradigma evolusi kebudayaan yang ingin mengganti model dogmatis agama yang telah mendarahdaging di Eropa Barat dalam memandang kebudayaan manusia ini dikemukakan pertama kali oleh Edward Burnett Tylor, seorang ahli antropologi yang berasal dari Inggris. Paparan-paparan teori evolusi kebudayaan sebagaimana yang dikemukakan oleh Tylor kemudian dilanjutkan oleh Lewis Henry Morgan, seorang antropolog Amerika.

Setelah melakukan beragam penelaahan terhadap pandangan-pandangan kebudayaan Tylor dan Morgan dalam memandang kebudayaan manusia, generasi selanjutnya teori evolusi memunculkan teori evolusi baru yaitu teori evolusi kebudayaan multilinier yang diajukan oleh Julian Steward selain teori evolusi kebudayaan universal yang dikemukakan oleh Leslie White.

Steward menganggap bahwa perkembangan kebudayaan masyarakat manusia di pengaruhi oleh lingkungan dimana ia menetap atau hidup. Sekalipun terdapat berbagai perkembangan yang sama di beberapa daerah, hal itu di pengaruhi dengan adanya proses difusi kebudayaan. Menurutnya, terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang sama sekalipun letak daerahnya berjauhan namun, cara hidupnya tidak berbeda. Hal ini juga bisa termasuk kelompok atau komunitas besar maupun komunitas kecil yang hidup secara berkelompok. Perkembangan kebudayaan pada komunitas kecil mengalami kemiripan antar satu daerah dengan daerah yang lain karena lingkungan alam mereka yang relatif sama sekalipun letak daerahnya berbeda bahkan berjauhan.


Maksud komunitas kecil di sini adalah komunias manusia dengan jumlah sedikit dan hidup di lingkungan alam yang sulit, sehingga mengharuskan mereka untuk bekerjasama. Misalnya, seorang nelayan membutuhkan nelayan yang lain untuk menangkap ikan karena mereka percaya bahwa ikan yang mereka tangkap sewaktu-waktu akan sulit untuk di dapat (pengaruh musim, alat tangkap, dll), sehingga menuntut mereka untuk saling membantu satu sama lain (bekerjasama) di saat kondisi genting.
Steward juga menganggap bahwa apabila buruan dalam komunitas kecil tersebut jumlahnya sedikit (karena kehidupan sulit), mengharuskan mereka kembali pada kelompok mereka. Itu menurut hemat saya bisa tidak sesuai dengan pertumbuhan biologis manusia yang memiliki kelebihan sebagai makhluk berproduksi. Semakim banyak manusia yang lahir maka bertambahlah jumlah anggota kelompok mereka. Sehingga, jumlah hasil buruan yang sedikit tidak

Sama juga, perkembangan kebudayaan pada komunitas atau kelompok besar tertentu mengalami kesamaan antar satu daerah dengan daerah yang lain karena lingkungan alam mereka yang relatif sama sekalipun letak daerahnya berbeda bahkan berjauhan. Saya maksudkan komunitas besar di sini adalah komunias atau kelompok manusia tertentu dengan jumlah banyak dan hidup di lingkungan alam yang tidak sulit (kekayaan alam berlimbah ruah), tidak menuntut mereka mengerjakan kegiatan secara bersama. Banyaknya binatang buruan yang ada, yang memudahkan cara berburunya memungkinkan adanya organisasi sosial yang serupa di tiap kelompok yang berbeda. Bahkan unsur-unsur perkembangan evolusi manusia yang sekunder seperti pengaruh teknologi, sistem pengetahuan, dan kesenian di pengaruhi oleh proses difusi.

Referensi :

Referensinya sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.