Bunga Pun Layu dan Gugur

Setelah saya memaparkan tulisan hasil penelitian saya yang berjudul Pola Hubungan Kerja dalam Kelembagaan Lokal Nelayan, anda dapat melihatnya dengan klik disini. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang kisah hidup saya sekitar 12 tahun yang lalu. Kisah yang tak bisa ku lupakan hingga sekarang, salah satu kisah yang menjadi inspirasi saya dalam memahami makna hidup ini. Dalam hidup kita akan mengalami perjalanan yang menggembirakan seperti beberapa waktu yang lalu saya merasa gembira karena salah satu tulisan saya dimuat di Koran Tribun timur dan saya tulis di blog saya dengan Tulisan Ku Dimuat di Koran, Terima Kasih Tribun Timur, anda dapat melihatnya disini. Apakah kali ini kisahnya sama dengan tulisan saya kala ini, untuk lebih jelasnya selamat membaca.

Tubuhnya yang dulu padat, kini jadi kurus kering. Rambutnya yang indah telah rontok satu persatu dan wajahnya terlihat pucat. Ia bernama ‘bunga’, terbaring sakit beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, kami adalah sahabat sejak duduk di Sekolah Dasar (SD). Berbagai cerita telah kami bagi bersama. Keindahannya lebih sangat terasa di saat kami sekelas dan duduk di bangku yang sama di salah satu Sekolah Negri Menengah Pertama (SMP).

Kenakalan remaja, mulai dari bolos sekolah, perkelahian antar siswi dan kehidupan malam menjadi kegiatan yang kami gemari. Tetapi siapa yang duga, pertemanan kami berakhir begitu saja. Saya mulai berfikir untuk menata hidup ku dengan lebih baik. Mendalami agama dan menutup aurat dengan mengenakan kerudung adalah pilihan yang telah ku putuskan. Ku kira ia suka dengan perubahan itu tetapi tidaklah demikian. Bunga mulai menjauh dan mencari teman yang baru untuk menemaninya terus melakukan kegiatan yang kami lakukan bersama. Sejak masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA), sekolah kami pun berbeda. Saya sudah tidak lagi melihatnya seperti dulu karena perubahannya semakin buruk. Modernisasi memperbudak gadis putih, cantik dan tinggi ini. Sesekali saya mencoba bersilaturahim ke rumahnya seperti dulu tetapi ia tidak pernah menyambutku dengan baik bahkan, seakan sengaja tidak ingin bertemu dengan ku lagi.

Setahun berlalu, kami menjalani kehidupan masing-masing. Alhamdulillah prestasiku di sekolah mulai meningkat, kehidupan ku yang dulu kini berangsur membaik. Waktu pun berlalu begitu cepat, saya tidak lagi ke rumah bunga dan sudah tidak mengetahui keadaannya. Lalu, saya mendengar bahwa bunga jatuh sakit tetapi kerena kesibukan sehingga belum bisa menjenguknya.

Dua tahun berlalu, saya diterima disalah satu Perguruan Tinggi Negeri di Makassar. Kegembiraan itu membuat saya tidak menunda untuk mengabari dan berbagi bersama bunga. Tetapi, saya terkejut disaat bertemu dengannya, ia terlihat bukanlah bunga yang ku kenal dulu. Selama dua tahun bunga terbaring sakit, dokter sudah tidak dapat berbuat lebih sehingga memulangkannya ke rumah. Wajah dan tubuhnya tak sebaik dulu. Pertemuan terakhir kami sangatlah indah. Kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbagi cerita. 

Bunga banyak memuji ku, ia terus memuji ku. Ia menyesal tidak menerima ajakan ku dulu untuk meninggalkan kehidupan yang membuatnya hancur, untuk mempelajari agama dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Gaya hidup membuat bunga jatuh sakit karena minuman keras, pergaulan bebas dan yang lain telah ia geluti dengan menceritakannya kepada ku. Ia menyesal dan meminta maaf padaku, kala kami bertemu waktu itu. Tahukah kalian sobat, sungguh saat itu air mata yang ingin jatuh ku tahan sekuat mungkin. Kesedihan di hati tersembunyi rapi di balik senyuman ku, karena ku tak mau ia melihatku menangis.

Aku tak tega melihatnya dan tidak menyangka akan melihatnya seperti itu. Bunga meminta pamit, ia meraih tangan tangan ku, sambil tersenyum ia meminta maaf dan terus memuji ku. Matanya berkaca-kaca dibalik gelapnya suasana kamar tidurnya kala itu (jendela terbuka setengah siang itu). Saya duduk di samping kanan ujung tempat tidurnya, sambil memegang tubuhnya yang terbaring kurus dan lemas. Sikapnya itu ku anggap biasa saja, awalnya ku tidak mengerti maksud dibalik pertemuan ku ini, sampai saat perjalanan pulang dari rumahnya itu, saya menerima kabar dari ibunya bahwa bunga telah tiada, ia kembali ke Sang Pencipta.

Sungguh dunia hanya tipuan bagai kilatan mutiara di tanah yang gersang
Wahai hamba Allah segalanya akan berakhir
Kita telah tertuang, pada taqdir yang bersanding menunggu…. (Abu Al ‘Itahiyah)

Ya robb, sungguh sekarang ku mulai mengerti. Jalan yang engkau tunjukkan dulu hingga sekarang adalah jawaban untuk menjadikan ku sebagai manusia yang lebih baik dan mulia. Hidayah-Mu merupakan hadiah terindah seumur hidupku. Kini, saya hanya bisa bertemu dengannya di tempat peristirahatan terakhir. Kalau bukan karena petunujuk-Mu ya Allah Zat Pemberi Petunjuk, mungkin saya tidak dapat menulis kisah ini. Mungkin saya bisa senasip dengan bunga atau lebih buruk lagi. Terima kasih untuk kisah perjalan kita, semoga engkau tenang disana sahabat ku.

Insyaallah dengan keizinanMu ya Robb
Aku akan jejaki, jalan yang
Kau ridhai Suka dan duka kuterima, dengan penuh taqwa
Aku bersyukur menerima rahmat Mu Insyaallah, dengan keizinan Mu
Robb Ku kan mencapai cita-cita murni
Ku abdikan hidup dan matiku Untuk Mu, karena Mu ya Robb (Hijjaz : KeizinanMu)

Terima kasih sudah membaca, kalian dapat membaca tulisan-tulisan saya yang terkait seperti Its Me (Perempuan Produktif), untuk melihatnya dapat anda klik disini.

Artikel ini berisi kisah inspirasi dari bagian hidup saya bersama seorang sahabat. Kisah yang tak bisa ku lupakan yang menjadi salah satu perjalanan hidup yang menarik untuk kalian baca