Catatan Seorang Istri (Berperan Sebagai Anak, Istri dan Menantu Saat Lebaran)

Halo sobat, sekian lama ya saya baru kembali lagi nih. Sekitar dua bulan lebih baru saya baru punya kesempatan kembali lagi menulis. Tidak di rasa bulan ramadhan meninggalkan kita yah, itu berarti kita sudah bisa dapat fokus kembali seperti sebelumnya, hanya sayang ya kalau hidup kita masih tetap sama seeprti sebelumnya, tentu kita berharap akan mengalami perubahan kearah positif. Sebelumnya saya telah memaparkan tulisan yang berjudul Berwirausaha Dan Hambatan Kewirausahaan Untuk melihatnya dapat diklik disini. Nah kali ini tidak kalah menariknya loh, serukan kalau kitam mebaca pengalaman saat lebaran, mau tau ceritanya yuk kita baca sama-sama.

Dalam rangka liburan nih, kita tak bisa melewatkan waktu untuk bersama keluarga. Mungkin keluarga besar hanya dapat kita jumpai hanya setahun sekali, seperti pada momentum libur lebaran. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak orang dengan berkunjung ke kampung halaman mereka. Sangat wajar jika pada saat seperti itu menciptakan kemacetan yang panjang, baik di jalan tol maupun di jalan raya trans. Kemacetan ini disebabkan karena melonjaknya arus kendaraaan yang melintasi jalan secara bersamaan, apalagi tersedianya jasa transportasi yang mudah, murah dan disediakan oleh pemerintah. Tak sedikit juga yang mengalami imbas dari adanya macet ini. Ada yang berjam-jam terjebat macet, ada juga yang harus dirawat di Rumah Sakit karena mengalami kelelahan akibat terjebak macet. Memang aneh ya jika kita melihat fenomena mudik saat lebaran.

Sebenarnya saya cuma ingin bercerita sedikit soal pengalaman saat mudik. Berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Rasa gembira sudah pasti ada, mengingat bertemu dengan keluarga besar setahun atau bahkan saya tidak sempat bertemu dengan sepupu saya yang sudah tiga tahun lamanya karena saya diperhadapkan denga situasi memilih. Nah apa saja pengalaman saya saat mudik ini, yuk kita simat cerita saya, semoga dapat menjadi hikmah buat teman-teman semua.

Menjadi seorang istri dan seorang ibu memang susah-susah gampang ya, kata orang sih kayak gitu. Saya memiliki seorang putra yang tepat kemarin berumur tiga tahun, putra saya ini adalah cucu pertama dari mertua saya karena iparnya saya yang seorang diri belum dikaruhniahi seorang anak setelah tiga bulan yang menikah. Kewajiban menjadi serorang istri, ibu sekaligus seorang anak harus bisa dijalankan secara adil dan bijaksana. Bagaimaan saya membagi peran saya dalam menjalankan ketiganya, yuk simak ceita saya berikutnya.

Sebelum lebaran saya memiliki kegiatan yang alhamdulilah super duper padat, saya diharuskan untuk menetap di kota, mengingat jarak antara kota dengan kampung mertua saya cukup jauh sekitart 250 kilo menggunakan jalur darat. Nah hal tersebut membuat saya melaksanakan puasa pertama di kota saya bersama kedua orangtua (orantua saya sudah lama menetap di kota-saya pun lahir dan dibesarkan disana). Tentu, kedua orangtua saya senang mendengarnya, bahkan mereka menyuruh saya menginap sewaktu-waktu di rumah mereka (alhamdulillah sudah dua tahun terakhir saya dan suami sudah memiliki rumah sendiri). Sebagai seorang menantu, saya juga harus memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang bergabung dalam keluarga suami saya. Kewajiban untuk datang saat lebaran adalah jawabannya. Kedua mertua saya sudah jauh hari mengajak saya dan suami untuk berlebaran di kampung, kami sudah sepakat untuk berlibur disana.

Setelah sebulan puasa hampir usai, kami memutuskan untuk ke kampung nenek fatih (nama putra kami). Saat kami berada disana, keluarga besar saya juga sudah berkumpul di kota. Nah disini yang menarik, saya merasa sudah melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang anak, dengan memenuhi undangan kedua orangtua saya untuk berpuasa dan nginap di rumah mereka. Selanjutnya saya juga sudah memenuhi kewajiban saya kepada kedua mertua saya yang berlebaran di kampung mereka. Dan selalu berada disamping putra ku dengan mengasuh dan membimbingnya, sekalipun saya pun juga belum sempurna sebagai seorang ibu, saya lakukan mengingat tanggung jawab seorang ibu.

Ada rasa sedih, itu sudah pasti, yang tertanam dalam diri saat keluarga besar saya berkumpul sepekan lebih di kota. Sedih karena tidak hadir ditengah-tengah mereka, apalagi moment seperti itu sangat jarang terjadi, mungkin dalam waktu yang lama baru terjadi lagi mengingat kegiatan mereka juga banyak sehingga sulit mencocokkan waktu. Saat mengingat beberapa tahun lalu, kami tidak bisa berkumpul seramai itu, yah kami hanya bicara melalui telephone untuk melepas rindu sekaligus bersilaturahmi.

Rasa gembira pun saya rasakan saat berkumpul bersama keluarga suami di kampung. Saat sangat yakin, moment bertemu keluarga besar ini pun sangat jarang terjadi. Kegembiraaan menyelimuti mereka saat berkumpul dan berbagi cerita. Sudah empat tahun lamanya saya menikah, saya merasa waktu berputar sangat cepat, tidak dirasa saya sudah bergabung selama itu dengan keluaga ini, benak ku saat berkumpul bersama mereka malam itu.

Ada hal yang menarik lagi sobat dari berkumpulnya saya dengan keluarga besar ini. Pola prilaku mereka sangat jauh berbeda dengan keluarga besar saya di kota. Sangat beda, aktifitas mereka tidak sama namun sebnenarnya esensinya saya rasa tetap sama ya. Jadi, keluarga besar saya memanfaatkan kebersamaan dengan berkunjung di tenpat wisata di kota seperti mall, tempat rekriasi permandiaan. Selain itu, mereka juga tentu mengunjungi keluarga kami yang juga menetap di kota. Silaturahmi terjalin dengan erat, terlihat dari foto-foto mereka yang diunggah di group line keluarga. Lain halnya dengan keluarga di kampung suami saya, tampah sadar saya membandingkan keduanya. Keluarga besar suami saya, melakukan aktifitas rumahan seperti biasa. Di pagi hari bagi para wanita memasak makanan di dapur, sedang para pria bercengkrama di menyantap minuman hangat dan kue-kue lebaran. Siangnya mereka sempatkan untuk bercerita pengalaman sambil merebahkan diri di kamar hingga di sore hari mereka bermain di halaman sambil duduk bersantai menikmati hidangan yang sama di waktu pagi hari. Begitu seterusnya selama empat hari lamanya. Aktifitas ini menurut saya, mugkin juga kalian, adalah aktifitas yang sudah lumrah dilakukan di desa. Tugas seorang wanita tempatnya di dapur sehingga waktu mereka lebih banyak dihabiskan di area tersebut, tidak jauh dari situ. Sekalipun saya juga tau kalau keluarga besar saya di kota juga melakukan aktifitas sepetti ini namun tidak seintensif di kampung suami saya.

Sebenarnya disini saya tidak ingin mencari aktifitas mana yang benar dan salah, disini saya hanya ingin menunjukkan betapa bedanya prilaku mudik lebaran yang terjadi di kota dan di desa. Keduanya terasa unik bagi saya pribadi, tanpa sadar saya mengamati dan berniat untuk menulisnya dalam sebuah tulisan yang sedang sobat baca saat ini. Keduanya sangat menarik, sangat banyak pelajaran dari pengalaman saya. Jika kita memahami dengan seksama, saya rasa sobat juga mengalami hal yang kirang lebih sama dengan apa yang saya rasakan kan!. 

Demikianlah cerita singkat saya saat lebaran kemarin yakni idul fitri 1437 Hijriah yang bertepatan tanggal 6 Juli 2016. Saya yakin masih banyak cerita-cerita menarik dan unik lainnya dari kalian semua, saya sangat berkesan jika sobat dapat berbagi dengan saya atau dengan yang lain. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita memaknai setiap momentum saat bersama keluarga, tak terkecuali di hari lebaran. Demkianlah, terima kasih sudah mau membaca tulisan ini, kalian dapat membaca tulisan saya yang lain misalnya Its Me (perempuan produktif) dapat diklik disini. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kalian semuanya ya sobat, saya akhiri. Wassalam.

Artikel ini berisi tentang pengalaman saya saat lebaran menjalankan peran sebagai seorang istri, ibu dan menantu secara bersamaan. Semoga dapat bermafaat untuk kalian para istri dan para wanita yang sudah siap menikah. Selamat membaca.