Ahok: Menggugat Pendekatan Linier dalam Perpolitikan Indonesia

Sebelumnya saya telah menulis tentang Aksi Damai Jilid 2 yang dapat kalian lihat disini. Kali ini saya akan memaparkan tulisan yang tetap berkaitan dengan tulisan tersebut. Disini saya menuliskan sebuah salah satu tulisan yang saya ambil dari salah satu akun facebok seorang teman yang bernama Rensi. Tulisan ini disebarkannya di halaman facebook dengan nama halaman Antropologi se-Indonesia. Tulisan ini menarik sekali, cocok jika kita menghubungkan dengan isu yang lagi hangat dibahas dalam dunia perpolitikan kita saat ini. Melihat dan mengkaji sisi lain dari permasalahan atas pelecehan agama yang dilakukan oleh Ahok. Tulisannya sangat singkat tapi dapat menjadi jawaban atas kekeliruan yang semakin melebar. Itu pendapat saya terhadap tulisan ini, bagaimana dengan kalian. Selamat membaca.

Relax Corner: “ Logika Ahok: Menggugat Pendekatan Linier dalam Perpolitikan Indonesia” (Kajian Etnografi)
“Kata Linier (KBBI, 2012) berarti ‘terletak pada suatu garis lurus.’ Kelinieran berarti prinsip penderetan fonem yang menggambarkan deretan fonem. Dalam Matematika kata linier selalu dipadankan dengan persamaan, persamaan linier (PL). PL berarti sebuah persamaan aljabar, yang tiap sukunya mengandung konstanta, atau perkalian konstanta dengan variabel tunggal. Persamaan ini dikatakan linear sebab hubungan matematis ini dapat digambarkan sebagai garis lurus dalam Sistem koordinat Kartesius (WP, 2016). Dalam antropologi budaya konsep linier memiliki kedukan sebagai sebuah teori yaitu teori multi-linier yang digagas oleh Julian Steward. Steward (Heiddy, 2008) berpendapat evolusi kebudayaan berhubungan erat dengan kondisi lingkungan, dimana setiap kebudayaan memiliki culture core, berupa teknologi dan organisasi kerja. Esensi dari konsep linear adalah baris berjejer, berevolusi hanya dalam satu garis atau core. Perpolitikan Indonesia sejak kemerdekaan hingga refomasi sekarang dibangun dengan cara pandang linier. Pendirian itu tertuang dalam semboyan Bineka TUNGGAL Ika. Pada tataran praktis jauh lebih ekstrim walaupun tersirat yaitu presiden harus Jawa dan Muslim, Gubernur, Bupati dan Wali Kota harus Muslim, Kristen dan etnis asli berdasarkan lingkungan sosial dan budaya setempat. Identitas agama dan etnisitas telah menjadi culture core of politic di Indonesia. Logika Ahok berbicara dan bertindak lain. Ia (Cina dan Kristen) berhasil menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010 (meskipun hanya berjalan hingga 2006) dengan populasi 91.702 jiwa, 90% beragama Islam (BT, 2006). Ia pernah gagal dalam pemilihan Gubernur Bangka Belitung tahun 2007. Kegagalan tidak mematahkan mimpinya. Pada tahun 2009 Ia menduduki kursi DPR-RI sesudah mendapat dukungan suara sebanyak 119.232. Pada 2012 Ia mencalonkan diri sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo. Kedua pasangan itu menjadi orang nomor satu dan dua DKI Jakarta sesudah mendapat dukungan suara pada putaran kedua Pilgub sebanyak 2.472.130 (WP, 2016). Sibuk dan jatuh bangun dalam budaya perpolitikan Indonesia berbasis linier tidak mempersempit ruang private Ahok. Ia berhasil menulis biografinya berjudul ‘Merubah Indonesia, Tidak Selamanya Orang Miskin Dilupakan (Purnama, 2015).’Logika Ahok tertuang dalam kata-katanya: ‘Kita harus Berani keluar Tinggalkan Zona Nyaman.’ Bagi Ahok, mengingat kepemimpinan politik di Indonesia berbasis Pancasila dan UUD 1945, siapa pun dia berhak menjadi pemimpin politik dan publik di negara yang disebut Republik Indonesia.” (Sumber: “Etnografi Logika Ahok: Menggugat Pendekatan Linier dalam Perpolitikan Indonesia,” Katuk Muyu, Tepian Sungai Kapuas Banua Dayak, 02 November 2016).

Demikianlah tulisan saya kali ini. Apa yang kalian baca diatas adalah tulisan yang sangat menarik sehingga saya menuliskannya kembali di blog saya ini. Bagaimana penulisnya mencoba mengaitkan fakta yang lagi fenomenal dalam dunia perpolitikan kita. Memberikan penjelasan dari segi sosial budaya terhadap fakta yang terjadi. Kasus yang menarik dan menjadi isu penutup di tahun ini.

Terima kasih karena sudah membaca, kalian dapat juga membaca tulisan-tulisan yang lain dengan menantikan tulisan-tulisan saya berikutnya. Sampai jumpa.

Salam
Dwi

Tulisan ini berisi tentang isu yang lagi hangat dibahas dalam dunia perpolitikan kita saat ini. Melihat dan mengkaji sisi lain dari permasalahan atas pelecehan agama yang dilakukan oleh Ahok. Selamat membaca