Catatan Seorang Istri Memaknai Arti Hidup

Hai sobat setelah sekian lama saya kembali lagi menulis di blog saya ini. Kisah demi kisah saya curahkan berdasarkan pengalaman pribadi yang saya lalui hari demi hari. Sebelumnya saya baru menyadari betapah pentingnya menulis sebuah tulisan karena hampir sebulan ini saya tidak dapat menulis tulisan apapun karena tidak tahu apa yang harus ditulis. Menulis butuh inspirasi yang tidak bisa dibuat-buat. Inspirasi yang datangnya dari hati dengan penuh kesadaran, tanpa rekayasa yang dibuat-buat.

Sebelumnya saya telah menulis tulisan yang berjudul Ahok: Menggungat Pendekatan Linier dalam Perpolitikan Indonesia yang dapat kalian lihat disini. Kali ini saya ingin mengajak kalian untuk mengkaji sebuah kisah nyata yang saya alami sendiri dan keluarga kecil saya. Kajian histori akan mengisi tulisan ini, berupaya mengajak kalian memaknai arti hidup yang sesungguhnya berdasarkan pengalaman hidup saya dan keluarga kecil saya. Semoga kalian tidak bosan membacanya, selamat membaca.

Sebelum saya menikah dulu, sebagai seorang wanita muda tentunya terbesit berbagai harapan yang ingin diraih saat menikah kelak. Sebuah cita-cita yang hampir sebagian besar diinginkan oleh semua wanita di dunia seperti ingin memiliki rumah sendiri bersama suami dan anak-anak dan ingin memiliki kendaraan sendiri dsb. Terlahir dari keluarga sederhana, hati saya terenyuh saat melihat ayah dan ibu tidak memiliki rumah sendiri. Selama ini kami dibesarkan di rumah milik nenek yang sewaktu-waktu akan diambil oleh keluarga besar ibu (rumah nenek dari ibu saya). Ibu dan ayah mengakui bahwa mereka tidak sanggup membeli rumah untuk kami sekeluarga. Mereka lebih mengutamakan kami bersekolah tinggi, ketimbang berfikir untuk mengumpulkan sejumlah uang lalu membeli sebuah rumah. Sekolah yang mereka belum rasakan dan ingin agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, saya bertekat waktu itu. Saya berjanji kepada kedua saudara ku samnil meneteskan air mata saat ibu dan ayah mempertahankan rumah kami yang akan diambil oleh saudara ibu yang lain. Om saya (adik ibu) waktu itu membantu ibu mempertahankan rumah tersebut untuk kami karena kami bingung mau tinggal dimana jika kami pergi kala itu (7/8 tahun lalu). Saat kejadian tersebut kami bertiga berkumpul di kamar ibu dan ayah sambil menangis. Saya berkata kepada kedua saudara ku (kakak perempuan dan adik laki-laki ku) “..Suatu hari nanti saya akan membelikan ibu dan ayah sebuah rumah dan saya juga akan memiliki rumah sendiri bersama suami dan anak saya..” Hanya itu, hanya kalimat itu yang ku katakan kepada mereka berdua. Kalimat itu keluar dari bibir ku dengan penuh keyakinan dan harapan kepada Allah Swt dan dari lubut hati ku yang paling dalam. Air mata ku terus saja mengalir, berharap suatu hari nanti kalimat itu bisa terwujud.

Sekitar 3 tahun berlalu, saat saya meraih gelar sarjana (S1) tidak lama kemudian Allah Swt mempertemukan jodoh saya melalui pernikahan. Tanggal 05-05-2012 saya menikah dengan seorang pria yang luar biasa dalam penjalanan hidup saya. Setelah menikah kami memulai semuanya dari awal, memulai segalanya dari angka 0. Kami belum memiliki pekerjaan karena sama-sama baru menyelesaikan studi kala itu. Tidak lama berselang, sekitar beberapa bulan atas izin Allah Swt saya mendapatkan beasiswa kembali seperti waktu S1 sebelumnya, untuk melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi (S2). Suami mengizinkan saya menerimannya kala itu, mulai dari mengandung, melahirkan (tanggal 13-07-2013) sampai merawat anak kami telah saya tekuni sambil berperan sebagai seorang istri dan mahasiswi S2 saat itu. Tentu melalui berbagai pengorbanan yang akan bahas di tulisan saya yang lain.

Alhamdulillah dengan penuh kesyukuran, putra kami lahir dan kami kontrak di sebuah rumah. Atas kekuasaan Allah Swt setahun kemudian (tahun 2014) kami bisa memiliki sebuah rumah di daerah Makassar. Rumah sederhana yang bisa kami peroleh dari kerja keras saat itu, saat kami belum memiliki pekerjaan tetap, apalagi saya masih kuliah S2 waktu itu. Tetapi jika Allah Swt berkehendak, semua pasti segera terwujud. Semua keputusan-Nya tidak bisa terelakkan, jika Beliau berkehendak maka terjadilah seketika. Ayah dan ibu sangat senang mengetahui hal tersebut. Mata mereka menunjukkan kegembiraan yang luar biasa saat mengunjungi rumah itu bersama-sama.

Setahun kemudian yaitu tahun 2015 alhamdulillah kami memiliki kendaraan sendiri. Sebuah motor yang kami miliki atas kerja keras kami berdua. Setahun berikutnya yaitu tahun 2016 saya dan suami berniat memiliki badan usaha sendiri karena selama ini suami menafkahi saya dengan menekuni dunia bisnis dan atas kekuasaan Allah Swt lagi kami bisa memiliki badan usaha sendiri. Kami menamainya dengan sebutan “CV. Fatih Multi Karya”. Diambil dari nama putra kami “Fatih” sebagai harapan ia dapat menjadi agen penerus bisnis kami kelak. Melalui kehidupan sebagai seorang istri dengan penuh kesabaran dan kerja keras menghasilkan sebuah energi positif bagi suami untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami bersama. Terbukti di tahun berikutnya yaitu tahun 2017 ini, diawal tahun kami memiliki sebidang tanah yang luasnya melebihi rumah kami. Impian yang terbesit di hati kami, tetapi kami tidak menyangkah akan secepat ini dikabulkan oleh Allah Swt. Sebuah sebidang tanah yang bisa menjadi aset kami untuk masa depan kelak. Saya dan suami berniat mengajak ibu dan ayah untuk tinggal di tanah tersebut dengan membangunkan mereka rumah disana. Mereka sungguh sangat senang, terlihat dari senyuman dan air mata kebahagiaan mereka. 

Sobat, saya dan suami hanya manusia biasa yang sama dengan kalian, sama dengan orang lain pada umumnya. Memiliki impian dan cita-cita dari sebuah keluarga pada umumnya. Kami hanya terus berusaha, berdoa serta sabar atas pengorbanan yang kami lalui sampai saat ini. Dulu jika kami mengingat kembali, untuk makan saja kami rasakan sangat susah. Sebagai seorang istri saya harus belajar mengelola keuangan yang masih sangat minim bagi kami kala itu. Sedang suami saya berfikir bagaimana ia mampu menafkahi saya dan anak kami dengan bekerja keras. Alhamdulillah sekarang kami sudah memiliki sebuah rumah, motor, badan usaha (CV) lalu sebidang tanah yang kami raih dalam waktu yang sangat cepat. Hanya berselang setahun kami menikah kami memiliki rumah, lalu setahun kemudian lagi kami memiliki motor, lalu setahun kemudiannya lagi kami memiliki badan usaha (CV) dan setahun kemudiannya lagi (tahun ini) di awal tahun kami memiliki sebidang tanah. Pencapaian yang kami lalui selama 5 tahun kami menikah. Sekarang kami sudah memiliki pekerjaan tetap, suami saya fokus bisnis CV kami sedang saya fokus mengajar di salah satu perguruan tinggi (kampus) di Makassar.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi kalian semua. Kami berharap, ada keluarga-keluarga kecil lainnya yang sama seperti yang kami alami, keluarga yang mendapatkan kenikmatan dunia melebih kami yang tentunya atas kehendak Allah Swt. Keluarga kecil yang merasakan makna kehidupan seperti yang kami rasakan. Aamiin, Aamiin ya robbal’aalamiin Sampai disini dulu tulisan saya, semoga bermanfaat untuk kalian sobat. Kalian dapat membaca tulisan-tulisan saya yang lain seperti Catatan Seorang Istri (berperan sebagai Anak, Istri dan Menantu) saat lebaran yang dapat kalian lihat disini. Semoga kalian tidak bosan membaca tulisan saya dengan menantikan tulisan berikutnya. Terima kasih

Salam_Dwi

Tulisan ini berisi kehidupan seorang istri yang memaknai arti hidup bersama keluarganya. Menggambarkan kisah hidupnya sebagai sebuah contoh positif bagi kalian semua. Selamat membaca