Cegah Bahaya “Uang THR” Untuk Anak

Sumber foto:
Dwisurtijunida dan Muhammad Fathul Hanif (dokumen pribadi)

Hi sobat kembali lagi saya menulis di blog saya ini, hmm sebelumnya telah saya posting artikel berjudul "Pendidikan Dalam Bingkai Kebudayaan" yang dapat kalian lihat disini.

Kalian pasti pernah melihat orangtua atau orang dewasa membagi-bagikan sejumlah uang kepada anak-anak saat lebaran. Sejumlah uang yang sering diistilahkan dengan uang THR. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan anak-anak menanti-nantikan hari lebaran tiba. Dulu, saya teringat saat masih kecil (kira-kira masih SD) seperti anak-anak yang lain saya selalu mendapatkan banyak uang dari para tante dan om, waktu itu nenek dan kakek saya sudah meninggal dunia. Apalagi saat ibu dan ayah berjanji akan memberikan hadiah saat lebaran jika saya mampu berpuasa selama sebulan penuh sekalipun saat itu masih belajar berpuasa setengah hari. Saya selalu menunggu lebaran tiba karena hari itu keluarga besar kami berkumpul, apalagi yang jauh rela datang ke rumah, banyak makanan enak tersedia dan mendapatkan uang banyak dari keluarga. Sebagai anak-anak hanya sebatas itu alasan saya gembira menyambut hari lebaran.

Hanya disayangkan faktanya saat mendapatkan uang THR seketika itu juga langsung habis dibelanjakan kebutuhan yang sebenarnya kurang perlu. Sebut saja dihabiskan dengan membelikan pakaian yang harganya mahal, sandal/sepatu yang hanya sesekali digunakan. Padahal jika kita bertimbang dengan bijak, uang THR itu bisa kita gunakan untuk dibelikan kebutuhan mendesak seperti kebutuhan dan perlengkapan sekolah anak-anak kita dan sebagian disisihkan dengan ditabung. Semakin dewasa, apalagi saat memiliki seorang putra saya mulai menyadari bahwa moment lebaran dapat berfungsi sebagai media belajar yang sangat baik, yang bisa kita manfaatkan. Salah satunya adalah menanamkan pendidikan menabung sejak dini. Karena sesungguhnya perilaku bersumber dari budaya yang dihasilkan melalui interaksi seseorang dari generasi ke generasi berikutnya. Maksudnya seorang ibu (orangtua) harus mampu sejak dini mentransferkan nilai-nilai pendidikan seperti berperilaku hemat melalui kebiasaan menabung saat lebaran.

Saya teringat kajian budaya tentang manusia sebagai makhluk sosial penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan. Diwaktu yang bersamaan manusia juga saat interaksi dengan sesama manusia juga diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan tersebut yang telah dihasilkannya. Artinya seorang ibu (dalam hal ini keluarga inti) mampu memberikan upaya terencana dalam mengembangkan potensi anak-anaknya, sehingga anak-anak memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang telah diwariskan yang disepakati masyarakatnya lalu mengembangkan warisan tersebut kearah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang. Kebiasaan menabung adalah sikap baik yang disepakati oleh kebanyakan masyarakat dulu hingga kini karena dengan menabung manusia dapat berperilaku hemat mengelola keuangan mereka.

Karakter anak-anak sejak dini harus dibentuk sesuai dengan masyarakat dimana ia dibesarkan karena karakter adalah landasan dari cara berfikir dan bersikap/bertindak. Dalam momentum hari lebaran seorang ibu khususnya harus mampu melakukan sikap seperti berikut kepada anak-anak mereka yaitu pertama; mengajarkan mereka sikap berterima kasih saat mendapat hadiah atau sejumlah uang, kedua; biasakan seorang ibu menyimpan uang itu karena anak-anak sering teledor apalagi sering lupa saat bermain, ketiga; menyediakan media untuk menabung seperti celengan dan sejenisnya serta kelima; membiasakan mereka menabung dengan menjelaskan manfaat dan fungsi menabung agar anak-anak terbiasa menyisihkan sebagian uang jajannya untuk ditabung dan terakhir keenam; perlihatkan kebiasaan kita sebagai orangtua sikap gemar menabung agar dapat ditiru oleh mereka. 

Apalagi jika lebih jauh kita mengaitkan hubungan pendidikan bangsa dengan karakter bangsa maka harus berjalan sinergi antara nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, artinya menerapkan nilai-nilai pendidikan tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif . Belajar hemat melalui kebiasaan menabung adalah salah satu karakter yang amat penting dan sedini mungkin diwariskan ke anak-anak kita salah satunya saat hari lebaran. Karena pengembangan pendidikan menabung lalu terbentuk sebagai karakter manusia mampu berhemat sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa dimasa mendatang dengan melahirkan generasi yang tidak hidup boros. Pengembangan itu tentu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran efekti yang dimulai dari keluarga inti.

Yukk menjadi orangtua yang cermat, cerdas dan cepat meresponts gerak gerik anak-anak kita. Berupaya seoptimal mungkin mengerahkan seluruh potensi kita untuk mencerdaskan mereka. Mengawasi tumbuh kembangnya sebagai generasi geligius, cerdas dan produktif bagi bangsa dan negara. Menjadi ibu-ibu yang mampu sigap melihat peluang yang ada dalam mentransferkan nilai-nilai pendidikan yang baik sesuai dengan nilai, norma yang berlaku dimasyarakat kepada anak-anak kita, tak terkecuali saat hari lebaran tiba.
Kalian juga dapat membaca artikel saya yang berjudul "Kesalahan Orangtua Terhadap Sekolah" dapat kalian lihat disini. Demikianlah artikel saya, lain kali saya akan membagikan tulisan-tulisan lain. Terima kasih

Tulisan ini berisi tentang tips bagaiamana mendidik anak kita mendapat uang THR saat hari lebaran. Selamat membaca