Saat Orangtua Lebih Dulu Belajar

Hai sobat, sebelumnya telah saya paparkan tulisan berjudul "Cegah Bahaya Uang THR Saat Lebaran" yang dapat kalian lihat disini. Kali ini saya bercerita sedikit tentang pengalaman saya terhadap ibu saat saya menjadi seorang ibu. Bagaimana menjalankan kewajiban saya menjadi seorang istri dan ibu setelah menikah. Selamat membaca.

“..ada yang bilang menjadi orangtua itu susah-susah gampang loh...”. Kalimat itu pernah saya dengar beberapa tahun silam saat belum menikah. Terlintas dipikiran rasa penasaran gimana jika saya bergelar sebagai seorang ibu suatu hari nanti. Setelah menikah lalu di kharuniahi seorang putra, saya tidak memiliki pengalaman sedikit pun mengurus suami apalagi mengurus seorang anak. Saya bersyukur masih memiliki orangtua lengkap, terutama seorang ibu yang mengajari saya banyak hal tentang bagaimana menjadi seorang istri dan ibu dalam waktu yang bersamaan.

Berperan sebagai istri sangat susah loh sobat, apalagi perannya bertambah menjadi seorang ibu. Rasa penasaran saya terjawab saat kami (saya&suami) kontrak disebuah rumah sambil mengurus seorang bayi dengan penghasilan yang belum menentu. Apalagi saat itu kami masih kuliah S2 sambil sama-sama belajar kehidupan berumah-tangga. Hari-hari kami diselimuti dengan banyak rasa (rasa pahit dan manis), banyak pengalaman kehidupan dan banyak makna ditiap tetesan air mata kami.

Seiring waktu banyak hal yang terserap (tidak bisa saya sebutkan satu persatu), yang telah saya pelajari saat menjadi se-seorang yang bertanggungjawab besar dalam keluarga. Satu hal yang paling penting telah saya maknai sampai saat ini adalah seorang istri memiliki peran besar dalam keluarga kecilnya. Betapa tidak, kita harus cerdas mengelola keuangan, waktu, tenaga dan pikiran kita secara bersamaan. Belum lagi saat masalah menghapiri keluarga kecil kita, seorang istri harus mampu menenangkan pikiran suami dan anak-anaknya. Apalagi kita sebagai seorang istri harus bisa menjaga keutuhan, keharmonisan dan yang terpenting menjaga martabat keluarga kita dari orang lain, termaksud dari orangtua kita masing-masing.

Saya semakin sadar sobat akan satu hal bahwa kehadiran orangtua terutama seorang ibu adalah perhiasan yang paling berharga yang saya miliki. Saya menyadari bahwa tanpa teguran, hukuman dan nasehat dari beliau mungkin saya tidak bisa seperti sebaik sekarang. Tanpa doa dan dukungan yang beliau berikan selama ini mungkin saya tidak bisa tumbuh bahagia sampai sekarang.

Sekarang, saat saya menjadi seorang ibu semakin membuat saya mengerti banyak hal tentang makna kehidupan sesungguhnya. Ibu tidaklah sekedar pintar memasak, mencuci, membersihkan rumah dsb, akan tetapi seorang ibu lebih dari itu. Seorang ibu memiliki hati ditiap perilaku yang ia kerjakan dan memiliki jiwa dari semua perkataannya. Perkataannya sebagai didikan agar kami tumbuh menjadi anak yang baik, yang dapat dibanggakan oleh dunia. Membuat saya semakin memahami akan makna bahwa sebagai orangtua, saya harus belajar lebih dulu dari orangtua saya.

Mungkin secara tidak sengaja kita sering mengeluarkan perkataan yang kurang pantas diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya dan seorang ibu kepada anaknya. Sikap yang tidak seharusnya kita munculkan kepada mereka berdua. Seharusnya sebagai seorang anak dan ibu, saya harus bisa menjaga lisan dan sikap yang baik untuk mereka berdua. Hal itu membuat saya semakin menyadari bahwa sampai saat ini saya belum mampu menjadi anak dan ibu yang baik bagi mereka.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pelajaran untuk kalian sobat dan kalian tidak bosan membaca tulisan-tulisan saya yang lain. Kalian juga bisa membaca tulisan saya yang berjudul "Catatan Seorang Istri Memahami Arti Hidup" yang dapat kalian lihat disini. Semoga bermanfaat

Sumber Foto : Dokumen Pribadi (Penulis bersama ibu dan kakaknya)

Tulisan ini berisi tentang bagaimana menjalankan kewajiban sebagai seorang anak dan seorang ibu setelah menikah. Selamat membaca.