Ramadan tanpa Teror

Ramadan kali ini sangat berbeda, ada yang ganjil di hati saya di sepuluh Ramadan sampai saat ini. Seperti beberapa hari sebelum memasuki bulan Ramadan, terjadi peledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada hari minggu 13 Mei 2018. Pelaku peledakan bom bunuh diri di tiga tempat dalam pekan yang sama masing-masing berasal dari satu keluarga. Peristiwa mengenaskan tersebut menewaskan 13 orang dan 43 lainnya luka-luka, pelakunya merupakan pasangan suami istri dam empat orang anaknya. Tidak hanya itu di pekan selanjutnya terjadi lagi peledakan bom di Sidoarjo, satu keluarga dengan dua anak diketahui juga pelaku peledakan, menyusul di Mapolresta Surabaya di pekan yang sama.

Ada yang aneh saya rasa, kejadian-kejadian keji ini sangat aneh bagi saya. Kenapa tidak, setelah diselidiki para pelaku berasal dari orang yang beragama islam dan melakukan pemboman disaat-saat mendekati bulan Ramadan. Ini sangat aneh kan!, bukankah seluruh umat islam memahami keistimewaan bulan Ramadan sehingga bulan Ramadan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh semua kaum muslimin, lalu kenapa mereka yang mengaku beragama islam tega melakukan hal tersebut. Apakah para pelaku tidak ingin merasakan nikmatnya bulan Ramadan sehingga mereka meledakkan diri mereka sendiri dengan membawa serta keluarganya lalu bom bunuh diri. Apalagi mereka meledakkannya di tempat ibadah agama lain, hal ini jelas melanggar sifat toleran beragama yang diajarkan dalam Agama Islam. Karena bukankah Rasulullah SAW juga memiliki sifat toleran beragama semasa hidupnya, begitu adilnya beliau saat menjadi khalifah (pemimpin) sehingga dia tidak ingin rakyatnya termasuk kaum non muslim tidak ada (satupun) yang kelaparan. Bukankah dia juga sangat adil saat perang melawan kaum non muslim dengan mengharamkan membunuh wanita dan anak-anak, membunuh binatang, merusak infta struktur umum, sumber daya alam dsb yang merupakan syarat-syarat berperang. Peristiwa pemboman tersebut menurut saya bukanlah kategori mati syahid yang dipahami oleh ajaran Agama Islam.

Itu yang pertama, selanjutnya keganjalan aneh yang saya rasa adalah adanya isu-isu radikalisme dan in-toleran serta isu kebencian terjadi dimana-mana. Kasus penyebaran isu kebencian yang dilakukan oleh seorang remaja pria menghina Presiden Republik Indonesia melalui video berdurasi tak kurang dari lima menit itu. Dilansir dari news.idntimes.com, pemuda bekacamata itu mengancam Presiden Jokowi dengan memegang dan menunjuk-nunjuk foto bapak presiden. Selain mengancam akan menembak, pemuda itu juga menghina-hina presiden dengan kata-kata yang tidak etis. Sekalipun kemudian pelaku tersebut bersama keluarganya meminta maaf kepada presiden dan seluruh masyarakat indonesia yang geram dengan aksinya setelah beberapa saat viral. Kejadian ini terjadi di awal Ramadan disaat-saat umat islam sedang merasakan nikmatnya menyambut bulan penuh hikmat. 

Itu yang kedua, selanjutnya hal yang baru saja terjadi, tepatnya kemarin dan dekat dari kediaman saya. Seorang istri ketua camat di Kecamatan Panakkukang diduga menyebarkan isu sara melalui pidatonya disalah satu kediaman warga. Dilansir dari Video sosialisasi istri Camat Panakkukang, Muh Thahir Rasyid, yakni Haslinah Said dg Caya beredar di media sosial (medsos) yang diduga menyinggung isu sara. Diunggah oleh akun facebook bernama Asmira Kasim di grop Pilwali Makassar 2018 mendapat komentar dari sejumlah warga net. Video berdurasi 1,38 menit tersebut diduga menyebarkan isu rasa dengan menjanjikan daerah tersebut bisa lebih baik jika memilih salah satu kandidat calon walikota Makassar. Informasi yang diperoleh SINDOnews, sosialisasi tersebut berlangsung di salah satu rumah anggota Majelis Taklim pada acara buka puasa bersama, Kamis (24/5/2018) sore tadi, di wilayah RT2/RW4, Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang.

Sungguh mengherankan saya rasa, Ramadan tahun ini, dihiasi dengan kasus-kasus yang menyinggung etnis, ras, suku dan agama. Saya cuma berharap kasus-kasus ini tidak menjadikan keimanan kita semakin menipis sehingga kita menyia-nyiakan bulan yang penuh berkah ini. Saya bukanlah muslim yang taat sehingga mungkin saya pun akan dan pernah melakukan perbuatan keji terhadap sesama, tetapi ingat jika kita bisa bersikap sebagaimana seorang mulim yang baik, yang tidak membunuh saudara-saudara kita yang tidak berdosa, menghina saudara-saudara kita dan menyebarkan fitnah terhadap sesamea saya rasa itu perbuatan yang salah. Marilah kita sebagai mahluk yang berakal, coba berpikir mengasah otak kita untuk memahami hakekat sesungguhnya kehidupan. Tumbuhkan rasa toleransi terhadap manusia, menjalin hubungan baik antar sesame. Tidak hanya karena uang, status sosial, jabatan, tahta/harta membuat kita buta dengan akhirat, kehidupan yang hakikah, yang kadang tidak kita sadari karena kematian adalah konsekwensi hidup yang harus dihadapi dan sudahkah kita menyiapkan bekal kita ke akhitrat.

Demikianlah tulisan saya kali ini, kalian dapat juga membaca artikel lain yang berjudul Ahok: Menggugat Pendekatan Linier dalam Perpolitikan Indonesia yang dapat kalian lihat disini.
Atau mungkin judul yang lain seperti Problem Komunikasi Berujung Aksi yang dapat kalian lihat disini. Selamat membaca tulisan-tulisan saya yang lain, semoga sukses selalu.